02 Februari 2021   13:53 WIB

Pelaksanaan Webinar Menuju Peternakan Sapi Blora yang Handal

Pelaksanaan Webinar Menuju Peternakan Sapi Blora yang Handal

Pelaksanaan Webinar Menuju Peternakan Sapi Blora yang Handal

Gambar 1. Peserta pada Bappeda saat mengikuti Webminar

Kabupaten Blora merupakan penghasil sapi terbesar di Jawa Tengah. Dikutip dari BPS Provinsi Jawa Tengah, jumlah ternak sapi pada tahun 2019 adalah sejumlah 247.910 ekor, terbesar di Provinsi jawa tengah. Tentu hal tersebut memberi peluang yang sangat besar demi meningkatkan kondisi ekonomi peternak di kabupaten Blora yang Sebagian besar merupakan peternak rumahan. Untuk itulah perlu adanya pengelolaan yang baik pada saat pembibitan, bakalan, penggemukan, dan penjualan sehingga produksi sapi dapat terus ditingkatkan dengan tetap memperhatikan kualitas ternak dan juga pemasaran hasil ternak tersebut.

Atas dasar peluang dan tantangan tersebut maka Wabup atau juga Bupati terpilih bapak Arief Rohman, M. Si berinisiatif mengadakan acara webinar bertajuk “ NGOBROL BARENG BERSAMA MAS ARIEF ROHMAN” dengan tema ” Menuju Peternakan Sapi Blora yang Handal” secara daring menggunakan Zoom meeting dengan mengundang semua OPD dan Asosiasi peternak di Kabupaten Blora .

Pada acara webinar ini dihadiri oleh bapak Firman Soebagyo,S.E., M. H. (Anggota Komisi 4 DPR RI) sebagai keynote Speech, juga beberapa narasumber yang merupakan anak blora yang sukses menjadi guru besar di berbagai universitas ternama di tanah air. Prof. Muladno Basar (Guru besar Institut Pertanian Bogor), Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA,. DEA (Guru Besar Universitas Gadjah Mada), dan Prof. Dr. Imam Mustofa drh., M. kes. (Guru Besar Universitas Airlangga).

Acara Webinar yang diselenggarakan dan dikoordinasi oleh Bappeda Kabupaten Blora tersebut dibuka dengan sambutan Plt Kepala Bapped Kabupaten Blora Bapak Freebayu Alamanda, AP, S. IP., yang menyampaikan bahwa kondisi peternakan di blora saat ini .tidak lagi sesuai dengan filosofi sapi sebagai Rojo koyo, Akan tetapi justru Koyo Rojo. Yang artinya bahwa sapi tidak bisa menjadi sumber penghasilan/ kekayaan (Koyo) kepada peternak itu sendiri. Sehingga diperlukan solusi terbaik demi mengembalikan filosofi sapi sebagai Rojo Koyo ( Penghasil kekayaan bagi peternaknya).

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan keynote speech dari bapak Firman Soebagyo,S.E., M. H. yang menyampaikan bahwa pandemic merupakan momen baik bagi pemerintah untuk menurunkan impor sapi akibat menurunya permintaan di dalam negri. Dengan menurunkan impor sapi maka diharapkan akan menjaga nilai jual sapi lokal agar lebih kompetitif. Anggota Komisi IV DPR RI tersebut juga menyampaikan bahwa Sebagian besar peternak sapi adalah merupakan peternak tradisional yang diisi oleh SDM dengan Pendidikan rendah. Ini menunjukan bahwa peternakan belum dilirik oleh para kaum milenial dan kaum berpendidikan sebagai usaha yang menjajikan pendapatan yang baik.

Gambar 2. Peserta Webminar dari perangkat daerah hingga masyarkat Blora.

Beliau juga mengusulkan untuk didirikan BUMN Khusus dalam pengadaan bibit sapi yang harapanya blora sebagai penghasil ternak sapi nomor 2 nasional setelah madura dapat enjadi bemper kebutuhan sapi nasional.

Dilanjutkan para Narasumber sumber yang memberikan usul dan masukanya demi keberlangsungan peternakan sapi Blora yang lebih Handal. Bapak Bupati Terpilih menyampaikan bahwa perlu adanya perbaikan dan pengawasan kegiatan peternakan dari hulu ke hilir, juga pentingnya Rojo Koyo untuk bisa dikomunalkan.

Prof Ali Agus memaparkan penelitian beliau tentang Bengkel Sapi dimana menurut beliau 70% kualitas sapi dipengaruhi oleh pakan yang diberikan. Pada kesempatan tersebut beliau juga memberi tips – tips dalam usaha untuk menghasilkan sapi yang berkualitas khususnya dalam formula pemberian pakan.

Prof Muladno Mengusulkan agar peternak di Blora bergabung dengan  Sekolah Peternakan Rakyat bentukan beliau yang mempunyai tujuan utama untuk mengubah mainset peternak dari yang berfikiran tradisional menjadi peternak yang berfikiran modern. Beliau juga menyampaikan bahwa hampir secara keseluruhan peternak di Indonesia adalah peternak rumahan. Ini ditunjukan dengan rasio perbandingan antara jumlah penduduk dan jumlah sapi yang relatif tidak berubah dari awal kemerdekaan sampai tahun 2018. Dengan adanya fakta tersebut maka sekolah peternakan rakyat menjadi penting karena disamping di dalamnya terdapat pelatihan dan pendampingan juga terdapat sertifikasi bagi peternak sehingga diharapkan saat lulus dari sekoah peternakan rakyat peternak dapat memperluas cara fikir dan mitra dalam penjualan ternak.

Acara semakin seru dengan pemaparan Prof Imam Mustofa tentang Integrated farming. Dimana beliau mengusulkan 5 point diantaranya: Pembentukan badan Usaha, Unit Usaha, Pemanfaatan IT, Eduwisata, dan Ekonomi Kreatif. Dimana intinya adalah penyediaan lingkungan yang baik bagi peternak dari hulu ke hilir sehingga peternakan sapi di Blora yang merupakan penghasil sapi terbesar nasional dapat benar – benar dirasakan dampak ekonominya.

Setelah para narasumer memaparkan ilmu dan usulanya maka dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Kesempatan diberikan kepada asosiasi dan komunitas peternak blora juga peserta seminar yang ingin urun rembuk demi kemajuan peternakan sapi di Blora. Seua pertanyaan ditampung kemudian di sampaikan ke narasumber untuk dijawab sesuai disiplin narasumber.

Tanpa terasa waktu sudah sampai pada penghujung acara dimana bapak Sekda Komang Gede Irawadi, SE, M.Si. memberi tanggapan serta menerima masukan dari narasumber dan juga peserta yang memberi usulan untuk bisa ditindaklanjuti demi mengembangkan kondisi peternakan di Kabupaten Blora baik dari hulu sampai hilir.

Bapak bupati terpilih menutup acara dengan penegasan tentang hal – hal yang harus ditindaklanjuti oleh Pemkab Blora dari pertemuan ini.


Info